Pro-Player Bernama Logika di Ruang Pikir Perempuan
My beloved sisters - Ms Ika, Ms Dila, Ms Yeni Usai membaca pemberitaan mengenai teror yang dialami oleh Kak Sherly, refleksi awal yang muncul secara spontan adalah; "Ah, ini sangat Indonesia." Bukan dalam pengertian eksotis yang membanggakan, melainkan dalam pola kultural yang sayangnya cukup konsisten, hehehe. Alih-alih mengedepankan dialog, klarifikasi, atau mekanisme penyelsaian yang beradab, sebagian respons sosial justru memilih jalur paling ekonomis secara intelektual; teror. Sebuah praktik dengan biaya nalar rendah namun dampak psikologis tinggi. Lagi-lagi, sasaran semacam ini kembali jatuh pada perempuan. Seolah-olah terdapat algoritma sosial tak tertulis yang secara otomatis mengaitkan perempuan vokal dengan ancaman yang perlu "ditenangkan", bukan dipahami. Padahal; yang disampaikan adalah opini, fakta, atau sekadar keberadaan yang tampaknya sudah cukup memicu kepanikan kolektif. Hey! teror bukanlah refleksi kekuatan, melainkan indikator keterbatasan. Ia m...