Mencintai Academia Women? Hubungan Lolos Etik Tapi Gagal Quality Time
Salah satu konsekuensi yang nyaris tak tertulis namun wajib diterima adalah kehadiran untuk terus bersabar. Mencintai seorang academia woman tidak cukup bermodal keseriusan, ia juga menuntut ketenangan yang serius, sebuah paradoks yang nyata. Mengapa demikian? karena sangat mungkin kamu bukan pusat semesta. Ada riset yang belum selesai, konferensi yang menunggu deadline, jurnal yang meminta revisi ke-3, essay yang "tinggal sedikit lagi" sejak tiga minggu lalu.
Ini bukan soal kamu yang kurang penting, melainkan karena bagi sebagian akademisi, knowledge never sleeps. Cara mereka berpikir, memproses informasi, dan mempertanyakan hal-hal kecil hingga ekistensial hampir selalu berbasis metode, bahkan ketika sedang jatuh cinta. Singkatnya, kamu tidak sedang bersaing dengan manusia lain, tapi dengan epistemologi dan sayangnya epistemologi jarang mau kompromi.
Perempuan-perempuan itu terbiasa hidup dalam kesibukan yang menjanjikan, sebagian karena tuntutan struktural, sebagian lagi karena hobi personal yang kebetulan produktif secara akademik; menulis artikel, karya sastra, publikasi, dan segala aktivitas intelektual yang rasanya seperti mie ayam kang boy *memuaskan, bikin nagih, dan terasa lebih nikmat kalau ditraktir.
Perempuan yang berkecimpung di ranah akademik sering kali sulit ditebak arah jalan pikirnya. Bukan karena mereka misterius, tapi karena otaknya terbiasa multilayerd; satu topik, lima perspektif, plus satu catatan kaki. Maka wajar jika sesekali mereka tampak membingungkan, bahkan bagi dirinya sendiri.
Diskusi bersama mereka jarang benar-benar ringan. Obrolan santai bisa mendadak bermigrasi ke arena intelektual yang menantang; dari "capek ya hari ini" ke debat metodologi, lalu belok sedikit ke etika, sebelum akhirnya menyentuh epistemologis kecil. Siap-siap, yang diujikan bukan hanya perasaan, tapi juga logika. Karena di hadapan academia women, validasi emosional seringkali datang setelah argumennya koheran.
Selain itu, para academia women umumnya memiliki waktu yang fleksibel, namun jangan salah, fleksibel bukan berarti santai. Jam kerjanya cenderung eksperimental; malam menulis, pagi mengajar, akhir pekan dihabiskan untuk revisian yang katanya 'minor' tapi terasa seperti ujian hidup. Dalam kondisi tertentu, kencan sangat mungkin kalah prioritas dengan dua kata sakral yakni 'minor revision'.
Ada daya tarik tersendiri di situ. Ketika orang lain tidur, mereka sedang flirting dengan teori. Ketika kamu menunggu balasan chat, mereka sedang bernegosiasi dengan reviewer 2 yang dingin dan tak berperasaan. Seksi? iya, dalam pengertian akademik; fokus, berbahaya secara intelektual, dan tahu persis apa yang sedang mereka kejar.
Berdasarkan pengamatan, academia women kerap dipresepsikan sebagai figur yang relatif aman, dalam arti aman untuk setia. Alasannya bukan semata moralitas romantik, melainkan rasionalitas yang terlatih. Mereka terbiasa berpikir dalam kerangka konsekuensi; risiko personal, reputasi profesional, hingga dampak sosial yang dapat menjalar jauh melampaui urusan perasaan. Dalam logika ini, perselingkuhan bukan sekadar drama emosional, melainkan bentuk career suicide yang terlalu mahal untuk dibayar.
Bukan berarti mereka kebal godaan. Hanya saja, kapasitas untuk drama biasanya terbatas, karena sebagian besar waktu dan energi telah habis dikonsumsi oleh riset, pengajaran, dan tenggat yang tidak mengenali empati. Jika selingkuh menuntut strategi, kebohongan, dan manajemen emosi tingkat tinggi, maka menulis paper bereputasi terasa jauh lebih efisien dan, jujur saja, lebih memuaskan secara intelektual.
Singkatnya, ketika pilihan jatuh antara membangun narasi rahasia atau membangun argumen teoritis yang solid, banyak academia women akan memilih yang kedua. Bukan karena cinta tak penting, tetapi karena impact factor sering kali lebih setia daripada manusia.
Thank You!

Comments
Post a Comment